Memaafkan


Oke sebelumnya saya tumben sekali pakai gaya tulisan seperti ini di blog saya, biasanya saya menuangkan fikiran dengan menjadikan hal itu sebagai fiksi. Haha, mungkin memang akan tiba saatnya saja ya. Kali ini saya akan menuangkan fikiran saya tentang maaf dan memaafkan. Oh ya! Saat ini lagi idul fitri 1439 H, entah siapapun yang membaca ini dan pernah saya sakiti, pernah kesal dengan saya, dengan kerendahan hati saya mohon saya dimaafkan ya, nuhun sanget.


Memaaafkan memiliki kata dasar “maaf”, yang menurut KBBI maaf (n) berarti pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan, dan memaafkan (v) artinya memberi ampun atas kesalahan dan sebagainya, tidak menganggap salah dan sebagainya lagi. Oke, mungkin saya akan memberikan batasan dulu saya mau bahas maaf dan memaafkan sampai mana. Yang pasti, belum sampai tingkat seorang hamba meminta maaf kepada Tuhannya dan Tuhan memaafkan hamba-Nya. Belum. Ibaratnya sekarang ini ya bahas tentang habluminannas dulu. Hehe. Dan, maaf yang saya bahas itu bukan maaf dalam konteks meminta izin ya.


Maaf itu berhubungan dengan kata “salah”. Salah itu prespektif dan label sosial yang setiap orangnya punya pendapat berbeda dong tentang itu ? (Plis, bukan Salah Muhammad Salah pemain bola itu). Ada misalnya si A ngomong kasar sama B dan C, tapi penerimaan antara B dan C bisa beda, B bisa aja sudah biasa dengan omongan kasar dan not take it personality. Namun si C bisa aja yang hidup dengan latar belakang halus banget jadi mengganggap omongan A itu suatu kesalahan yang besar. Again. Lagi-lagi tentang prespektif dan latar belakang kehidupan juga pasti akan mempengaruhi. Nah dengan adanya prespektif yang berbeda ini, si A bisa aja ga ngerasa bersalah, atau bisa saja merasa bersalah banget. Haha, manusia itu kompleks ya. Emang. You don’t say.


Kata maaf pun ada yang bisa sangat berarti dan bisa pula dianggap angin lalu. Apalagi saat idul fitri gini yang kata maaf seperti sudah jadi caption nasional unggahan masyarakat. Bahkan, tak jarang hanya kopas alias kopi paste antara permintaan maaf satu orang ke orang lainnya, ya kalau kata orang sekarang broadcast gitu. What do you think about that ? broadcast permintaan maaf. Kalau saya pribadi, tidak masalah, namun saya akan lebih menghargai ketika seseorang yang bener-bener membuat permintaan maafnya kekita, Cuma buat kita. Hei. Menurut saya itu kayak “oke, dia tau salah dia dimana dan dia beneran mau maafan nih sama saya” saya akan lebih senang ketika seseorang secara pribadi meminta maaf atas kesalahannya dan menuturkan apa saja kesalahannya dan silahkan menegur saya juga. Dan saya akan mencoba dengan hati dan fikiran terbuka menginteropeksi diri saya. Hehe. Tapi, sepertinya ini untuk hubungan yang lingkarnya sudah mendekati intim. Karena saya juga tidak mempermasalahkan permintaan maaf yang broadcast gitu. Hehe. Mungkin lingkaran hubungannya masih di kulit, belum mendekati intim.


Its oke, yang penting permintaan maaf itu bener-bener datang dari hati. Itu kalau menurut saya sih. Beberapa orang beranggapan kata maaf itu hanya sebuah kata dan beberapa orang lainnya bahkan sangat sulit mengucapkan kata maaf. Kadang saya berfikir, sesakit apa seseorang sampai tidak mau memaafkan dan sebesar apa gengsi yang dimiliki ketika ia tidak mau meminta maaf. Oke, ini lebih  kompleks. Bisa jadi seseorang melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi seseorang lainnya dan menurut seseorang lainnya itu perbuatan tidak bisa dimaafkan. Hei. Itu sesakit itu lho. Kata maaf aja gacukup. Ada. Ada orang yang seperti itu.


Menurut saya, seseorang yang seperti itu membutuhkan jeda. Membutuhkan waktu. Membutuhkan proses. Untuk apa ? untuk MENERIMA. Menerima kenyataan bahwasannya yang terjadi seperti itu, menerima bahwasaannya dirinya pernah dilakukan seperti itu, seburuk itu, menerima ternyata dirinya pernah melakukan seburuk itu, pernah sejahat itu. Dan menurut saya, itu semua terjadi pada proses memaafkan diri sendiri. Oke, ini berlaku bagi orang yang meminta maaf dan dimintai maafnya ya. Intinya menerima diri sendiri. Sesimpel itu. Tapi seberat itu.


Coba fikirin, kenapa kita belum mau memaafkan seseorang yang pernah buat salah sama kita atau belum mau minta maaf sama seorang yang kita sakiti. Karena kita belum siap menerima. Satu kalimat ini mungkin bisa meredamkan barajiwa “manusia itu ga sesempurna itu, sayang”. Misal ya, ada orang yang mecahin gelas kesayangan kita. Wah kita bisa kesel banget tuh, kesel banget padahal itu gelas dari seseorang yang spesial banget misalnya, atau gelas itu kita beli ditempat yang jauh banget, atau gelas itu udah lama kita incer dan susah dapetinnya yang dia gatau perjuangan kita untuk dapetin itu gelas terus dia pecahin gitu aja. Kita ga terima kehilangan gelas itu. Makanya kita marah, kesel, belum maafin tuh orang yang mecahin. Its all about penerimaan, kan? Coba ya kita terima oke, mungkin itu gelas udah ga saatnya lagi sama saya, atau oke, ntar bisa saya perbaiki kok, atau oke, berarti disuruh cari gelas lain. Tapi itu hak kamu mau gimananya. Mau kamu lihat dulu alasan dia mecahin gelas apa atau itu disengaha atau engga. Tapi ya toh gelasnya udah pecah, kan ? terima aja dulu kalau gelasnya udah pecah, setelah itu gimana ya bisa difikir setelah kamu nerima bahwa gelas itu pecah. Hehe. Dan No, contoh ini bukan hanya bisa diterapkan pada gelas ya. Bisa diterapkan pada apapun. Dan mungkin ada kalimat yang bisa menentramkan lagi nih “gaada yang abadi, kan?”


Coba deh. Terima kenyataan.


Saya tau ada yang butuh proses untuk menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri serta orang lain. Saya pun pernah mengalami stress ataupun depresi yang terkadang tiba-tiba keinget terus nangis gitu. Hehe. Pernah. Tapi saya bisa apa ? dari pada kepikiran terus, mending saya mencari ketenangan dalam jiwa saya sendiri. Berdamai dengan rasa bersalah, berdamai dengan diri sendiri. Saya pun saat ini mencoba jujur pada diri sendiri. Hei. Masa diri sendiri mau dibohongin. Kalau kamu sedih, ya terima bahwasannya kamu sedih, salurkan sedih kamu, terus udah, terima, terus tenang. Udah. Hehe


Ya gitu deh, pendapat saya tentang maaf dan memaafkan yang berawal dari menerima dan tentang penerimaan diri. Selamat berdamai, ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini adalah tulisan spontan

Second year, Anambas !

Review Indomie Goreng “Mie Goreng Aceh”