Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Pengorbanan dan Mengikhlaskan

Nama kamu selalu ada didalam setiap doaku. Aku, tidak berharap namaku ada dalam doamu saat ini. Namun aku mensemogakan suatu saat kita ada dalam satu doa yang sama. “Kamu tolong dong ngertiin aku, kamu tuh lebih mentingin kerjaan kamu di banding aku, selalu seperti itu, mas” “Sabar sayang, sebentar lagi juga selesai pekerjaannya” “Satu minggu lalu kamu juga bilang kayak gitu mas, tapi apa ? sampai sekarang kamu gaada waktu buat aku, bahkan untuk ngabarin aku pun kamu ndak bisa” “ya nanti mas ....” Tut tut tut tut tut Sinta, nama itu yang lima tahun belakangan ini mengisi hari-hariku, entah itu marah, perhatian, kesal, rindu, dan apapun dapat terjadi antara kami. Hari ini terulang lagi, dia marah denganku yang lebih mengutamakan pekerjaanku dibandingkan dia. Mau bagaimana lagi, kerjaan ini akan semakin menumpuk jika tidak diselesaikan. Tapi, yang membuat aku sedih adalah, saat dia menelpon tadi, aku mendengar suaranya bergetar, seperti menahan tangisan. Aku benci meli...

Aku, Kamu, dan Keegoisanku

Aku memiliki kecenderungan untuk diam, bahkan saat sangat mengenal seseorang. Kecenderungan itu lebih kurasakan karena merasa nyaman dengan orang tersebut. Tapi tiba-tiba saja orang tersebut hilang. Apakah salahku karena diam? atau bagaimana? apakah salah diam karena nyaman? apakah selalu harus dinyatakan? tapi sebenarnya aku sendiri tak ingin orang tersebut menjauh dan menghilang. Semacam aku butuh orang yang tidak menyerah akan ke-diam-an ku ini. Aku berharap kamu tidak akan menyerah. Pertama kita tidak saling kenal, walaupun kita tak saling mengabaikan satu sama lain, kita juga tak saling merasa membutuhkan satu sama lain. Pertama juga kita tak saling menyapa, tak saling senyum saat papas-an bertemu. Hanya berlalu begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi saat itu, ditahun terakhir kita satu sekolah, ada yang berbeda. Kita dipertemukan untuk saling meyapa, untuk mencari satu sama lain, ya meskipun hal tersebut karena keperluan akademik. Tapi entah mengapa aku bersyukur. Ba...

Sederhana, bahagia, dan cinta

Karena bahagia itu sederhana. Sesederhana detak jantung yang mengiringi langkah kakimu disetiap waktu. Sesederhana tatapan penuh harapan tertuju pada langit saat hujan. Sesederhana secangkir teh melati yang menemanimu saat mentari hampir tenggelam. Sesederhana angin malam yang setia menemanimu hingga fajar menjelang. Bahagia itu sederhana. Namun cinta tak pernah sederhana. Apakah cinta tak membawa bahagia ? “teh?” “kopi, please” “kamu masih kecanduan kopi ya sa” “kamu yang keterusan minum teh fa” Jepang terlalu dingin untuk kulit tropis yang dimiliki ryiosa, wanita keturunan Indonesia-Jepang. Kulitnya berwarna sawo matang, rambutnya terurai sepanjang punggung dan sedikit bergelombang. Bibirnya tipis, alis matanya tak terlalu tebal, hidungnya tak terlalu mancung. Tubuhnya tinggi semampai, jelas sesuai dengan pekerjaannya menjadi model untuk salah satu majalah terkenal di Kyoto. Meskipun memiliki darah jepang didalam tubuhnya, ryiosa tidak pernah tahan dengan...